SABAN hari aku berduka dengan jiwa yang bergolak-galik. Entah apa yang membikin emosi terus kelesahan tanpa henti. Aku terduduk. Merenung sendirian.

Semalam serasa penuh dengan perkara yang menenangkan. Emosi ku galik. Damai namun tidak melehakan. Puas dengan apa yang dikecap? Aduh, bukan itu yang dimaksudkan oleh yang bernama diri.

Jiwa  seolah tidak punya kuasa sendiri. Ya, bukanlah diriku yang bernama kaisar semesta alam. Sebagai hamba yang sentiasa masyghul dengan nista dan salah silam, apakah layak mengaku diri punya kuasa? Sungguh aku lupa…

Nafas yang tersisa masih terhungap-hungap. Mencari serpihan baki nikmat yang tertinggal. Sampai bila harusku tergamang. Sepi pada kasih dan rindunya.

Teman, kutitipkan warkah kecil ini buat yang utama bagi diriku sendiri. Semoga kita terus berpegang pada paksi hidayah nur dari-Nya. Senduku padamu tiada pernah henti…

Bertakwalah kepada Allah sedaya upaya kamu (At-Taghabun ayat 16)